COMPLEATTHOUGHT.COM – Langit pada 17 Februari 2026 menghadirkan pemandangan langka ketika Gerhana Matahari Cincin terjadi.
Pada momen ini, siang hari tidak benar-benar gelap, tetapi matahari tampak seperti lingkaran bercahaya yang unik.
Fenomena tersebut sering dijuluki cincin api karena tepi matahari terlihat menyala terang.
Banyak pengamat langit menunggu peristiwa ini karena tidak selalu bisa dilihat dari satu wilayah setiap tahun.
Secara ilmiah, peristiwa ini disebut gerhana annular. Gerhana terjadi saat bulan melintas tepat di depan matahari.
Namun kali ini bulan tidak menutup seluruh permukaan matahari sehingga masih tersisa lingkaran cahaya.
Kondisi itu terjadi karena bulan berada lebih jauh dari bumi dalam orbitnya. Akibatnya ukuran tampak bulan lebih kecil dibanding matahari ketika fase bulan baru berlangsung.
Proses gerhana sebenarnya berlangsung bertahap. Diawali gerhana sebagian, kemudian mencapai fase cincin, lalu kembali menjadi sebagian hingga akhirnya berakhir.
Fase cincin diperkirakan berlangsung selama kurang lebih 2 menit 19 detik atau 2 menit 20 detik. Meski singkat, inilah bagian yang paling dinanti karena bentuknya paling dramatis.
Tidak semua wilayah bumi bisa melihat cincin sempurna. Daerah di luar jalur utama hanya akan menyaksikan matahari tampak seperti tergigit sebagian.
Data astronomi dari National Geographic menyebutkan bahwa Indonesia tidak dilalui jalur gerhana ini. Posisi geografis Indonesia berada terlalu jauh di utara dari jalur lintasan bayangan bulan yang menyapu kutub selatan.
Selain itu, waktu puncak gerhana (sekitar pukul 19.12 WIB) terjadi saat matahari sudah terbenam di Sebagian besar wilayah Indonesia.
Saat puncak gerhana, intensitas cahaya matahari menurun signifikan. Suhu udara bisa turun beberapa derajat dan bayangan terlihat lebih kontras.
Beberapa hewan juga bereaksi terhadap perubahan cahaya mendadak. Burung bisa kembali ke sarang dan serangga malam mulai aktif lebih cepat.
Meski indah, gerhana tidak aman dilihat langsung. Radiasi matahari tetap kuat dan dapat merusak retina tanpa disadari.
Pengamatan harus memakai kacamata khusus gerhana atau teknik proyeksi bayangan. Kacamata hitam biasa tidak cukup melindungi mata.
Selain jadi tontonan, gerhana penting bagi penelitian ilmiah. Ilmuwan memanfaatkannya untuk mempelajari cahaya matahari dan respons atmosfer bumi.
Bagi masyarakat umum, momen ini juga sarana edukasi astronomi. Banyak komunitas biasanya mengadakan pengamatan bersama saat gerhana terjadi.
Dengan jadwal yang sudah diketahui, publik bisa bersiap sejak awal. Pada akhirnya, gerhana matahari cincin bukan hanya fenomena langit, tetapi pengalaman langka yang mengingatkan kita pada keteraturan alam semesta.
(Penulis: Fitria Nova)