Fenomena Langka! Gerhana Matahari Cincin Akan Terjadi Pada Pertengahan Februari 2026 Di Sebagian Wilayah, Apakah Indonesia Termasuk?

COMPLEATTHOUGHT.COM – Masyarakat di Indonesia mungkin sudah tidak asing dengan fenomena gerhana matahari.

Namun, pada pertengahan bulan Februari tahun ini diprediksi akan ada fenomena langka yang jarang terjadi, yaitu gerhana matahari cincin.

Fenomena ini dijadwalkan akan terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, dan akan menjadi sorotan publik serta para pengamat langit di berbagai belahan dunia.

Lalu apa yang dimaksud dengan Gerhana Matahari Cincin?

Pada kondisi fenomena ini, ukuran Bulan akan terlihat lebih kecil dibandingkan Matahari, sehingga cahaya Matahari masih terlihat di bagian tepinya dan membentuk lingkaran cahaya terang yang khas di langit.

Bentuk cahaya melingkar tersebut biasa dikenal dengan sebutan ring of fire eclipse, karena menyerupai cincin api yang mengelilingi siluet gelap Bulan saat fase puncak gerhana berlangsung.

Tidak seperti gerhana matahari total, pada gerhana matahari cincin cakram Matahari tidak tertutup sepenuhnya. Bulan hanya menutupi bagian tengah Matahari, sementara pinggirannya tetap bersinar terang. Bayangan Bulan yang jatuh ke permukaan Bumi juga tidak mencakup wilayah luas.

Peristiwa Gerhana Matahari Cincin pada 17 Februari 2026 terjadi saat Bulan berada relatif jauh dari Bumi, atau mendekati jarak rata-ratanya, sehingga diameter tampaknya lebih kecil saat melintas di depan Matahari.

Berdasarkan data astronomi, Bulan tercatat melewati fase apogee pada 10 Februari 2026, yaitu titik terjauhnya dari Bumi, dan baru akan menuju perigee atau jarak terdekat pada 24 Februari 2026.

Kondisi inilah yang menyebabkan Bulan tidak mampu menutup Matahari secara sempurna dan memunculkan efek cincin cahaya yang menjadi ciri utama gerhana jenis ini.

Sayangnya, meski menjadi fenomena langit yang menarik, fase cincin Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026 hanya dapat disaksikan secara langsung dari wilayah Antartika.

Beberapa wilayah yang masih memungkinkan untuk mengamati fase sebagian gerhana meliputi:

  • Antartika
  • Argentina
  • Botswana
  • Chili
  • Komoro
  • Eswatini
  • Lesotho
  • Madagaskar
  • Malawi
  • Mauritius
  • Mozambik
  • Namibia
  • Afrika Selatan
  • Tanzania
  • Zambia
  • Zimbabwe
  • Wilayah Samudra Hindia Britania
  • Wilayah French Southern
  • Georgia Selatan dan Kepulauan Sandwich Selatan
  • Mayotte
  • Reunion
  • Seychelles

Wilayah lain di dunia tidak akan melihat fase cincin tersebut, meskipun beberapa daerah mungkin masih bisa mengamati fase parsial tergantung posisi geografisnya.

Sedangkan untuk di Indonesia sendiri, tidak termasuk dalam jalur pengamatan Gerhana Matahari Cincin pada 17 Februari 2026.

Hal ini disebabkan oleh Posisi geografis Indonesia yang berada jauh dari jalur lintasan bayangan Bulan, sehingga baik fase cincin maupun fase sebagian tidak dapat diamati dari wilayah Tanah Air.

Melansir dari data astronomi internasional yang dirilis oleh Time and Date serta National Geographic, Fenomena Gerhana Matahari Cincin ini akan berlangsung dalam beberapa fase berikut:

  • Gerhana sebagian dimulai: 09.56 UTC / 16.56 WIB
  • Gerhana cincin dimulai: 11.42 UTC / 18.42 WIB
  • Puncak gerhana (maksimum): 12.12 UTC / 19.12 WIB
  • Gerhana cincin berakhir: 12.41 UTC / 19.41 WIB
  • Gerhana sebagian berakhir: 14.27 UTC / 21.27 WIB

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga turut mengimbau kepada masyarakat agar tidak pernah melihat Matahari secara langsung tanpa pelindung, baik saat gerhana maupun tidak.

Hal ini disebabkan Karena Paparan sinar Matahari dapat menyebabkan kerusakan permanen pada retina mata.

 

 

 

Leave a Comment