BMKG Prediksi Musim Hujan Berlanjut hingga April 2026, Masyarakat Diimbau Untuk Tetap Waspada Cuaca Ekstrem Hingga Akhir Januari

COMPLEATTHOUGHT.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan musim hujan di Indonesia masih akan berlangsung hingga Maret bahkan awal April 2026.

Seiring pengaruh fenomena La Nina lemah yang diperkirakan bertahan sampai awal tahun depan. Kondisi ini membuat curah hujan secara umum berada di atas rata-rata normal di sejumlah wilayah Indonesia.

BMKG mencatat puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Januari 2026, terutama di Sumatra bagian selatan, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Selatan, serta Papua bagian selatan.

Pada periode ini, potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang meningkat, sehingga risiko bencana hidrometeorologi basah perlu menjadi perhatian serius.

Memasuki Februari 2026, intensitas hujan diperkirakan mulai menurun secara bertahap di beberapa wilayah, khususnya di Sumatra bagian tengah dan utara seperti pesisir timur Aceh, Sumatra Utara, Riau, hingga sebagian Jambi. Wilayah-wilayah tersebut diproyeksikan mulai memasuki fase yang lebih kering dibandingkan bulan sebelumnya.

Sementara itu, sebagian besar wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara masih akan diguyur hujan pada Februari, meskipun dengan intensitas yang lebih rendah. BMKG memperkirakan musim hujan di kawasan ini baru benar-benar berakhir pada Maret hingga awal April 2026.

Di sisi lain, BMKG mengingatkan bahwa beberapa wilayah di Maluku dan Papua berpotensi mengalami hujan hampir sepanjang tahun. Pola ini dipengaruhi karakteristik iklim lokal dan dinamika atmosfer yang membuat curah hujan di kawasan timur Indonesia relatif lebih stabil.

Meski curah hujan diprediksi menurun setelah Januari, BMKG menegaskan masyarakat tetap harus waspada terhadap potensi banjir dan tanah longsor setidaknya hingga Maret 2026, terutama di daerah rawan bencana dan wilayah dengan topografi curam.

Untuk jangka pendek, BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem pada periode 21–26 Januari 2026. Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi bagian selatan Sumatra, Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Peningkatan cuaca ekstrem ini dipicu oleh beberapa faktor atmosfer yang terjadi bersamaan. Salah satunya adalah kemunculan bibit siklon tropis 97S di Samudra Hindia selatan Indonesia yang memengaruhi pola angin dan memperkuat pembentukan awan hujan.

Selain itu, penguatan Monsun Asia hingga 23 Januari 2026, disertai aliran udara dingin dari daratan Asia, turut mempercepat pertumbuhan awan konvektif di wilayah Indonesia bagian selatan. Kondisi ini diperkuat oleh aktivitas gelombang atmosfer dan Madden-Julian Oscillation (MJO) yang meningkatkan suplai uap air.

Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa pergerakan sistem 97S ke arah barat berpotensi memperkuat pertemuan dan belokan angin dari pesisir barat Sumatra hingga Nusa Tenggara, sehingga peluang hujan lebat semakin besar.

BMKG memprakirakan hujan lebat berpotensi terjadi pada 21–23 Januari 2026 di Bengkulu, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT.

Sementara itu, pada 24 Januari cuaca ekstrem diperkirakan melanda Jawa Tengah dan Jawa Timur, disusul potensi hujan lebih intens di Bali, NTB, dan NTT pada 25–26 Januari 2026.

Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di luar ruangan serta memperhatikan keselamatan perjalanan darat, laut, dan udara.

BMKG juga mengingatkan warga untuk rutin memantau informasi cuaca terbaru melalui aplikasi InfoBMKG, situs resmi BMKG, dan akun media sosial @infobmkg agar terhindar dari risiko cuaca ekstrem.

Leave a Comment