Memiliki Potensi Menjanjikan, UMKM Lokal Kuningan Perlu Didorong Lebih Serius

COMPLEATTHOUGHT.COM – Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, memiliki potensi besar dalam pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

UMKM merupakan sektor ekonomi yang berperan penting dalam menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat daerah.

Wilayah Kuningan dikenal dengan kekayaan alam pegunungan serta budaya lokal yang kuat, sehingga melahirkan beragam usaha berbasis kearifan lokal.

Oleh karena itu, UMKM tidak hanya berfungsi sebagai penggerak ekonomi, tetapi juga sebagai penjaga identitas dan nilai budaya daerah.

Salah satu contoh UMKM yang cukup dikenal di Kuningan adalah produsen tape ketan khas Cigugur. Produk ini memiliki cita rasa unik dan telah menjadi ikon kuliner daerah.

Selain itu, terdapat pula UMKM opak ketan dan keripik singkong yang banyak dijumpai di wilayah Luragung dan sekitarnya.

Produk-produk tersebut sebenarnya memiliki peluang pasar yang luas, terutama sebagai oleh-oleh khas daerah, namun sebagian besar masih dipasarkan secara sederhana tanpa pengemasan modern dan strategi branding yang kuat.

Di sektor pertanian dan perkebunan, UMKM kopi lokal Kuningan, seperti kopi dari kawasan Cibuntu dan Darma, mulai menunjukkan potensi yang menjanjikan.

Kopi lokal ini memiliki karakter rasa khas dataran tinggi yang mampu bersaing dengan produk kopi dari daerah lain.

Namun demikian, keterbatasan akses pemasaran dan minimnya promosi digital menyebabkan kopi lokal Kuningan belum dikenal luas di luar daerah. Kondisi ini membuat produk lokal kalah bersaing dengan merek kopi yang lebih agresif dalam membangun citra dan jaringan pemasaran.

Tantangan utama UMKM Kuningan saat ini terletak pada adaptasi teknologi dan pemasaran digital. Banyak pelaku UMKM masih mengandalkan penjualan secara offline melalui pasar tradisional atau menitipkan produk di toko sekitar.

Padahal, pemanfaatan media sosial dan marketplace digital dapat membuka peluang pasar yang jauh lebih luas.

Kurangnya literasi digital, keterbatasan sumber daya manusia, serta rendahnya keberanian untuk mencoba inovasi baru menjadi faktor penghambat utama dalam proses transformasi digital UMKM.

Selain permasalahan pemasaran, persoalan permodalan dan legalitas usaha juga masih menjadi kendala yang cukup serius.

Sebagian pelaku UMKM belum memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) serta pencatatan keuangan yang rapi. Akibatnya, mereka kesulitan mengakses bantuan permodalan, program pembinaan, maupun kerja sama dengan pihak lain.

Hal ini menunjukkan bahwa UMKM tidak hanya membutuhkan dukungan dana, tetapi juga pendampingan yang berkelanjutan dan terarah.

Pemerintah Kabupaten Kuningan sebenarnya telah melakukan berbagai upaya, seperti pelatihan UMKM, pameran produk lokal, serta fasilitasi perizinan usaha.

Namun, program-program tersebut masih perlu diperkuat melalui pendampingan jangka panjang dan kolaborasi yang lebih intensif dengan perguruan tinggi serta komunitas kreatif.

Peran generasi muda menjadi sangat penting dalam membantu UMKM beradaptasi dengan teknologi, mulai dari desain kemasan, pemasaran digital, hingga pengelolaan media sosial secara profesional.

Ke depan, UMKM Kuningan harus dipandang sebagai aset strategis daerah, bukan sekadar usaha kecil berskala lokal.

Dengan pengelolaan yang lebih profesional, dukungan kebijakan yang tepat, serta pemanfaatan teknologi digital secara optimal, UMKM Kuningan memiliki peluang besar untuk berkembang dan bersaing di pasar yang lebih luas.

Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, pelaku UMKM, dan masyarakat perlu terus diperkuat agar potensi lokal ini dapat mendorong kesejahteraan masyarakat dan memperkuat perekonomian daerah secara berkelanjutan.

 

Penulis: (Febry Khalid Faqih & Fajar Rahmat Prandana)

 

Leave a Comment